Sign up with your email address to be the first to know about new products, VIP offers, blog features & more.

Train of Thought : Part 1

PART 1  

Bismillahirrahmaanirrahiim..  

Jumat kemarin, alhamdulillah sempet hadir di kajian orang tua sekolah Ayala.

Denger cerita ustadz Khasyim, seorang mualaf yang udah lama tinggal di Bali. Alhamdulillah. Saya selalu amazed bagaimana Allah, selalu mengirimkan petunjuk-Nya sambung-menyambung terus menerus, selalu pas sama apa yang saya lagi pelajari sendiri, buku yang lagi dibikin, plus kejadian di sekitar.   Hal yang paling menohok adalah bagaimana beliau bener-bener merasa titik baliknya adalah ketika mengenal Asma’ul Husna. Dan yang sedih, bagaimana kita yang muslim sejak lahir, sering kali nggak bener-bener kenal sama Allah.

Oke kita dikasih tau bahwa Allah yang menciptakan kita, diajarin ritual, bacaan, dan doa, tapi yang luput adalah : Kenapa sih kita butuh Allah? Kenapa sih cinta nomer 1 itu buat Allah? “kenapa” is soooo missing.  

Ngerasa ngga…sering kali kita dijejali dengan puas dan merasa hebat akan diri sendiri. Pujian emang jebakan. Bukan jarang seliweran kalimat “You are enough”, “You are strong”, “You are this and that.. yang mengajak diri kita merasa cukup, dengan diri kita sendiri. But is it true?  

Mendengar kajian Sheikh Yasir Qadhi kemarin2, sungguh ajaib bahwa sebenarnya:

sebagai seorang muslim, OUR STRENGTH, kekuatan kita, adalah sebenarnya berasal dari KESADARAN akan LEMAHnya kita, that we need STRENGTH from THE STRONG : Allah (Al-Qawwy)…

Kehormatan kita adalah saat kita menyadari betapa terhormatnya The Honorable – Al-Aziz…

Jadi sebetulnya, our faith, kepercayaan kita, define who we are.   Be proud of yourself, Be who YOU WANT to be, they say.

Ok, tapi proud seperti apa? Bangga kalau diri kita seperti apa? Sukses? Di mata siapa? Iblis, bangga sama dirinya sendiri. Saya terbuat dari api, katanya. Tapi dari rasa terhormatnya, dia lupa bahwa ada Al-Aziz, yang paling berhak dihormati, karena sejatinya Allah yang menciptakan dia dari api. Jadi mestinya Allah yang ditaati, bukan hawa nafsu sendiri. PRIDE, and being PROUD of himself, mencelakakan dirinya sendiri.

So should we be PROUD, and think it’s good to have PRIDE when what we do is following iblis’ path? By disobeying Allah dan terlalu merasa bangga, hebat dengan diri sendiri.

 

Merasa self sufficient, padahal..

 

Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?”  (Ath-Thuur : 35).

 

Seandainya saja sejak awal, kita mengerti bahwa, Allah is the one who made us strong. The one who give us strength. Allah yang memberi kita kehormatan, jadi kehormatan kita ngga bisa tuh diambil sama orang – apalagi bilang kehormatannya direnggut, only Allah can gave it to us and only Allah can take it away from us. Dan semuaaa yang kita punya, sejatinya adalah alat, yang tergantung gimana kita makenya. Be it health, or sickness.. Pernahkah menyaksikan orang yang bilang sakitnya hadiah? Dengan sakitnya dia sadar akan keberadaan Allah dan apa gunanya kehidupan dunia -have you heard about Almarhum Ali Banat? Dan sementara yang diberi kesehatan, ketika sehatnya dipakai maksiat, apakah sehatnya jadi alat yang manfaat, atau membawanya pada bahaya?

 

Terus gimana dong usaha kita? Saya sendiri terus berusaha untuk menerapkannya pada diri sendiri dan keluarga di kehidupan sehari-hari. Sering kali menjelaskan Allah melihat, menyaksikan apa yang dia perbuat saya tambahkan dengan “Alhamdulillah, Allah dengar aya mulutnya dipake ngaji sama baca qur’an terus…” atau in other time “emang nggak malu sama Allah, mulut yang dikasih Allah untuk bicara baik dipakai untuk bicara kaya gitu, kan Allah denger kita ngomong”…  Mengkaitkan nikmat-Nya dengan bagaimana kita memanfaatkannya, karena semua disaksikan-Nya.

 

Mengenal Allah, betapa kasih sayang-Nya luar biasa, betapa Ar-Rahiim, kasih sayangnya yang Ia bagi – dari awal semesta hingga dunia berakhir dibanding dihari pembalasan adalah 1:99, then it’s hard to lose hope in His mercy. Membuat saya jadi paham kenapa sebenernya segala yang saya lakuin kalo dipikir-pikir juga nggak bikin saya deserve to be given Jannah. Jadi gimana atuh mau masuk surga kecuali kita dapet rahmat Allah. Perbandingan kita ngelakuin amal vs dosa aja seumur hidup rasanya syedih kalo tanpa ampunan Al-Ghafur… 🙁

 

Buat bayar oksigen, nikmat makan, nikmat sehat selama hidup di dunia aja asa ngga cukup kan semua ibadah kita teh 🙁 Tapi Allah, Rabb al-’alamiin, Yang Menciptakan dan mengurus semua makhluknya, yang melakukan itu semua out of His Mercy.

 

Tidak ada amalan seorangpun yang bisa memasukkannya ke dalam surga, dan menyelematkannya dari neraka. Tidak juga denganku, kecuali dengan rahmat dari Allah” (HR. Muslim no. 2817).

 

Alhamdulillahirabbil’alamiin…Ar-Rahmaan, Ar-Rahiim. Maliki yaumiddiin.

 

Ya Allah betapa menohoknya 2 ayat itu jadinya. Betapa bersyukurnya kita punya Rabb yang Ar-Rahmaan, Ar- Rahiim..

 

Trus tugas kita ngapain? Since we are weak without the strength that He gave us, we are lost without His guidance, so keep asking, and never stop asking.

 

Kita minta dan minta berulang kali, untuk dikasih petunjuk. Berusaha berulang kali dengan shalat, baca al-Fatihah berapa kali sehari…Kebayang nggak sih kalo kita lepas itu shalat? kita tinggalin? Kita nggak minta ditunjukin shirotol mustaqim?

Ya Allah, ternyata emang shalat teh kita yang butuh. Kalo lagi mens aja akutuuu rasanya ngaco 🙁 Apalagi nifas yak, ya Allah..syemangat buibu.

 

Terus salah satu hal lagi yang paling menohok sebenernya adalah : Kenapa Allah yang pantas disembah?

 

Oke banyak dari kita yang udah bisa nerima bahwa Allah adalah pencipta kita. Tapi kenapa HANYA Allah yang pantas kita sembah? Kalau di atas udah dijelasin betapa sebenernya kita harusnya sadar bahwa kita teh gak SELF-SUFFICIENT. Oksigen disupply, jantung dipompain, darah dialirin, semua teh kuasa Allah is Al-Lathiif, Yang Maha Lembut, sampe-sampe kita gak sadar kalo aslinya kita teh being provided 24/7.  Rejeki-Nya dateng seringkali dari arah yang nggak disangka-sangka. Semua kejadian yang kita alami di dunia sejatinya adalah proses yang bener-bener diatur sama Allah, yang bisa bikin kita jadi diri kita sekarang ini. Segala ujian, aslinya selalu ada kebaikan di dalamnya. Nabi Yusuf hanya bisa sampai ke istana dan jadi raja, hanya dengan cara ia pernah ada di sumur itu. (When we face hardship, always remember that <3)

 

Dan apapun yang kita capai sekarang, jangan pernah SOMBONG dan merasa HASIL KERJA KERAS KITA. yang masih ngasih kesempatan kita untuk hidup sampai saat ini. Asli yaaa ini juga menohok. Seandainya aja saya dulu keburu meninggal sebelum hidayah dateng, ya Allah, betapa rugi. Allah juga, yang menutupi ituuuu semua aib ama dosa-dosa kita, makanya orang-orang nggak pada tau. Allah, As-Sittir, yang walaupuuun kita udah berkali2 making sin aginst Him, terus menutupi dan menutupi dosa kita lagi sampe ga ketauan orang lain ;(((( – Kalo ketauan orang mah ngga ada yang mau deket2 juga kali 🙁 Only Allah alone can do that, dan hanya Allah yang MAMPU memaafkan segitu banyaaak kesalahan kita buat, melawan-Nya dari dulu sampe sekarang. Berapa panggilan yang gak kita sahut? Berapa shalat yang kita tinggalin 🙁 Tapi ketika kita kembali pada-Nya, bertaubat, Allah tetep nerima :(((

 

Semoga Allah terus memantapkan hati saya, kita semua hingga ajal menjemput nanti, so dont stoooop asking, hidayah bisa datang, tapi kalau ngga dikejer dan nggak dijaga, bisa lepas lagi. Keep asking,cuma Allah yang bisa kasih kita hidayah.

 

Ihdinaashirotol mustaqiim

 

how?

 

Dengan hanya beribadah pada-Nya, dan meminta kepada-Nya.

Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in

 

Kuinget lagi nasta’in ini minta pertolongan dengan usaha dulu, denger dari kajian ust. Nouman Ali. Walillahil matsalul ‘a’la – tapi sebagai contoh : kalo mobil kita bannya kempes dijalan, kita butuh bantuan tapi kan usaha dulu bukan cuma leyeh2 di mobil sambil nunggu orang dateng nolongin.

 

So do our best, while asking for His Help.

(Visited 192 times, 1 visits today)

No Comments Yet.

What do you think?

Your email address will not be published. Required fields are marked *