Purpose of Life: oh manusia.

Bear me, this is gonna be so long but this is about our purpose of life. Soal tujuan kita jadi manusia. Semoga aja worth to read, insyaa Allah.

Kalo kata Nouman Ali Khan, bulan Ramadhan bukan sekedar bulan puasa (jadi yang masih ribut puasa kudu ngehormatin apa dihormatin buruan bubarrrr! Apalagi yang masih ngurusin tukang warteg punya cabang berapa 😜… )
Tapi bulan dimana kita mesti berusaha mendekatkan diri pada Al-Qur’an. Rugi kalo beres Ramadhan ga dapet ilmu lebih tentang Qur’an dari apa yang kita punya sebelumnya.

Udah 12 hari saya ikutin bayyinah.org kajian Al-Baqarah, tapi hari ini sungguh spesial. Duh mungkin iman saya yang kendor, dulu males belajar, atau memang metode pengajaran sekolah jaman dulu membosankan sampe apa yang saya tangkep tentang cerita nabi Adam alaihi salam nggak semenakjubkan apa yang saya dengar hari ini?

Saya rasa ga perlu lah ya diceritain lagi soal bagaimana malaikat mempertanyakan kenapa manusia bakal jd khalifah di bumi, iblis menolak sujud, Adam dan Hawa diperintahkan untuk menjauhi suatu pohon kemudian dihasut iblis dan akhirnya diturunkan ke bumi.

Tapi dari dulu terbersit pertanyaan, bukankah manusia memang mau dijadikan khalifah di bumi, berarti Allah tau dong Adam bakal mendekati pohon itu?

Nahhhh si video hari ini pencerahan pisan terutama buat saya, yg pengetahuannya minim banget 😭
Ini rangkuman (cetek) saya yang tentunya gak bisa mewakili betapa kerennya video hari ke 12 ini (+ video Jeffrey Lang)

Al-Baqarah ayat 31-33 menceritakan bagaimana Allah mengajarkan Adam, dan bagaimana Adam mampu MEMPELAJARI nama-nama, sedangkan malaikat tidak mengetahuinya.

Ok, itu juga dari jaman kecil kita udah tau … Kejadian tersebut menjelaskan bahwa manusia berakal.

Kita bagi jadi poin poin tentang Makhluk bernama manusia.

Poin 1 Manusia makhluk yg intelek. Pembelajar. Mampu mempelajari yang diajarkan. Mampu mewariskan ilmunya dengan menulis dan membaca.

Kejadian selanjutnya yang diceritakan adalah soal larangan bagi Adam mendekati sebuah pohon.
Bisa jadi ini pertanyaan paling tua dalam kehidupan manusia. Kalau Allah Maha Tahu apa yang akan terjadi – bahwa manusia pertama, Adam alaihi salam- akan mendekati pohon itu dan melanggar perintahnya, maka “WHY IS IT OUR FAULT- as human-padahal Allah tau kita bakal melanggar?” Kembali lah kan ya kita ke kejelimetan qada dan qadar… Kalo seandainya ngga mendekat, apakah bakal ttp di surga? Tapi bukankah emang dari awal diciptain buat jadi khalifah di bumi jadi taat atau ngga toh bakal dikirim juga ke bumi?

Tapi gimana kalauuuuu pilihan pertama Adam adalah pertanda nyata kesiapan beliau sebagai khalifah selanjutnya di bumi? Semacam apa ya… Ini lohhhh pada hakikatnya manusia itu beda sama malaikat, kenapa diutus jadi khalifah, karena selain poin satu td intelektual dan pembelajar… Dia memiliki poin pembeda selanjutnya.

Poin ke2 bahwa manusia adalah makhluk yang diberi kebebasan untuk MEMILIH.

Iya kita punya PILIHAN untuk taat atau tidak taat. Kita sudah diberi petunjuk, dan kitalah yang memilih untuk mengikutinya atau tidak.

Nouman Ali Khan di video hari ini sedikit bercerita soal video Jeffrey Lang – Purpose of Life. Diantaranya bagian bagaimana Jeffrey Lang benar-benar kaget karena kejadian yang sangat penting dalam sejarah manusia-yang sebelumnya dia pahami sebagai kejadian luar biasa penuh kemarahan Tuhan dan berbuah kutukan bagi umat manusia(dipindahkan dari surga ke bumi) – dideskripsikan dalam Qur’an sebagai “a SLIP”… Tergelincir kalau dalam terjemahan indonesia. Iya, sekedar tergelincir, kepeleset, ketidaksengajaan yang bukan perkara besarrrr apalagi luar biasa..

Masalah yang besar adalah bukan pada kesalahan yang terlanjur kita pilih tadi, tapi bagaimana kita memilih langkah selanjutnya untuk menyikapi kesalahan kita tersebut.

Pada saat itu kedudukan Adam dan Iblis tidak jauh berbeda. Mereka sama-sama di surga,sama-sama terhormat, sama-sama melanggar perintah Allah, dan keduanya bahkan bisa saja melontarkan alasan logis untuk komplain pada Allah – dengan alasan takdir Allah , dan Allah pasti sudah tahu apa yang akan mereka perbuat.

Di Al-Hijr 39, setelah kejadian iblis menolak sujud dan diberi hukuman… iblis menyampaikan komplain bahwa Allah lah yang telah menyesatkannya… Kemudian dia meminta kesempatan untuk menghasut seluruh keturunan adam pada kesesatan.

Iblis tidak mau bertanggung jawab akan tindakannya sendiri dan justru menyalahkan Allah. Apakah dia minta ampunan? Tidak, dia minta izin balas dendam.

Sedangkan pilihan yang dibuat Adam, adalah memohon ampunan Allah dan menyatakan bahwa “kami telah menzolimi diri kami sendiri”
Beliau bisa saja melontarkan komplain logis serupa.Tapi semasuk akal apapun komplain itu, semasuk akal apapun godaan iblis, Adam tetap merasa tidak mungkin Allah tidak adil dan memilih untuk mengakui kesalahan ada pada dirinya sendiri karena memilih tidak taat dan kemudian memohon ampun.

Masing-masing mendapatkan jawaban doanya. Allah mengabulkan permintaan iblis yang ingin menghasut manusia ke neraka, sedangkan Adam mendapat ampunan-Nya dan melanjutkan hidupnya di bumi.

Di bumi, seluruh anak adam akan berbuat kesalahan, dosa…

Jadi setiap kamu dan saya berdosa, kita bisa memilih 2 jalan tadi. Jalan mana yang kamu pilih? Adam, atau iblis? Memohon ampunan, mengakui kesalahan adalah tanggung jawab pribadi dan memohon Rahmat dan Ampunan-Nya agar dapat kembali berjumpa dengan-Nya di surga-Nya?

Atau menyalahkan takdir dan mencari teman untuk di neraka karena terlanjur merasa berdosa?

Keberadaan manusia di bumi bukanlah hukuman. Kita disini karena kita dibekali kemampuan.
Bagaimana bisa kita bilang bumi ini hukuman, kutukan? Ini adalah “trailer” dari surga. Taman, sungai, pasangan yang cantik/tampan, buah-buahan… Buat yang doyan traveling… Heuuuu bayangkaaan… Bumi ini aja udh cakep banget. Nah, ketika kita memandang keindahan bumi ini, maka ingatlah… Ini cuma preview, ini cuma trailer… Ada tempat lebih indah yang menunggu kita nanti. Bagaimana bisa disebut kutukan, kalau diatasnya kita dipersilahkan beristirahat dan mencicipi kebahagiaan sementara di dalamnya yang diciptakan untuk kita?

Tapi walau begitu, bukankah hidup di dunia ini ga sekedar indah? Betul.

Ini dia poin ke 3. Suffering. Penderitaan.

Jika dalam ajaran lain, untuk melalui penderitaan butuh meditasi atau penyelamatan.. Atau hidup ini memang merupakan kutukan, tempat penderitaan, penderitaan adalah buah dari dosa… Maka kadang kita bertanya, kenapa anak kecil bisa terkena penyakit mematikan – dia tidak berdosa.. Atau kenapa yang baik tetap kena cobaan?

Tapi dalam Islam, penderitaan ini adalah sesuatu yang mesti kita terima dengan lapang.
Akan ada rasa takut, ada rasa sedih. Terus gimana kita mesti hidup di bumi ini?
Maka dari itu pada ayat 38 diperintahkan untuk mengikuti petunjuk Allah agar tidak sedih dan takut.

Petunjuk. Kembali ke poin-poin sebelumnya.
1. Makhluk intelektual, pembelajar yang dapat mewariskan ilmu
2. Makhluk dengan kebebasan pilihan.
3. Makhluk yang dihadapkan pada penderitaan. Untuk menghadapinya? Ikuti petunjuk.

Petunjuk, bahwa dalam agama ini, penderitaan adalah sesuatu yang harus kita hadapi, jalani. Bukan untuk dihindari. Setiap cobaan yang udah di-custom design, spesial buat orang yang qualified untuk menghadapinya. Kenapa harus ada penderitaan? Karena dari penderitaan itulah, manusia tumbuh.

Kita diciptakan bukan buat permainan Tuhan, Tuhan ga butuh hiburan. Ini bukan permainan semacam the sims. Kita diciptakan untuk merasakan, menjalani hubungan cinta dengan yang Maha Pencipta. Untuk merasakan rahmat dan kasih sayang-Nya.

Tapi gimanaaa, gimana mau punya hubungan cinta dengan Dia yang sungguh berbeda sama kita? Kita makhluk yang bisa mati, Dia Abadi. Kita terbatas ruang waktu, Dia tidak….

Kata-Nya dalam Quran, Dia mencintai orang beriman. Untuk saling mencintai dua arah, berarti kita mesti jadi orang beriman. Kaya apa sih orang beriman? Yang dermawan, yang suka memafkan, yang jujur, yang pengasih, yang penyayang, yang menjaga, yang melindungi, yang adil, yang bijak, yang berilmu dst… Hmmmm… Tidakkah kamu teringat sesuatu?

Ketika kamu ingin mendekat pada seseorang, bagaimana caranya? Cari kesamaan yang dimiliki. Sama sama memiliki tubuh, maka rubah posisi dan dekati secara fisik. Ketika memiliki emosi dan perasaan yang sama, dekatilah dengan berbagi perasaan tersebut. Jika memiliki pemikiran yang sama, mendekatlah dengan mendiskusikan pemikiran tersebut.

Ingin mendekat dengan-Nya? Dekatilah dengan sifat-sifat-Nya yang Ia anugerahkan padamu.

Sifat yang bisa kamu peroleh kombinasi dari 3 poin tadi, kemampuan belajar ,memilih, dan melalui penderitaan.
Kamu hanya bisa menjadi pemaaf, karena kamu telah merasakan derita disakiti, belajar dan memilih untuk memaafkan.
Kita hanya bisa menjadi pemberi, ketika kita belajar untuk merelakan berbagi pada orang lain yang lebih butuh, yang lebih menderita, padahal bisa jadi kita juga sama-sama menderita, tapi hanya dengan berbagi maka penderitaan akan lebih ringan.
Kamu hanya bisa menjadi pelindung, ketika diluar sana ada penderitaan dan kamu memilih untuk belajar-dan mengajari yang kamu lindungi untuk menghadapinya.
Kamu hanya bisa jadi berilmu, ketika kamu memilih untuk belajar, mencari ilmu dan merasakan sulitnya proses pembelajaran itu.. Dan seterusnya…

Namun ketika kamu berhasil untuk menjadi pemaaf, kamu akan merasakan betapa besarnya ampunan dari yang Maha Pengampun,
Ketika kamu menjadi seorang yang pembelajar, disana kamu akan merasakan betapa luas ilmu-Nya.
Ketika kita berhasil memberi dengan ikhlas, disanalah kita akan merasakan betapa besarnya pemberian-Nya pada kita.

Now make sense knp nabi cobaannya berat..karena buah dari penderitannya, hubungan cintanya bakal jauh lebih besar juga. Dan biar bisa dicontoh pengikutnya… *ini mah pemikiran dadakan saya*

Begitulah cara memperoleh hubungan cinta dua arah dengan-Nya, tujuan hidup kita. Biar jatuh cinta. Biar tau cara mempersiapkan kembali pertemuan dengan-Nya nanti. Supaya pertemuan kembali dengan-Nya jadi pertemuan luar biasa indah. Hidup yang sementara ini adalah persiapan pertemuan kembali dengan-Nya. Ibadah kita adalah semacam pengingat pertemuan selanjutnya itu.

Duh maaf ya kalau jauh pisan dari kerennya cerita Nouman Ali dan Jeffrey Lang. Ini mah cuma apa yang saya dapet dari pemahaman saya yang cetek. Tapi semoga bermanfaat buat yang ga sempet nonton nouman ali atau jeffrey lang. Atau yang lieur karena bahasa inggrisnya ngebut.

Eh trus tp ada pertanyaan nongol,kenapa kita harus beriman kenapa ga tinggal niruin sifat2 Allah aja? Karena di quran lah petunjuk lengkapnya. Ditunjukin sifat mana yang mesti diturutin. Yg mana sifat2 orang beriman. Yang mana sifat yg khusus hak spesial buat Tuhan.. Gitu mungkin ya… *jawaban pribadi kalau salah abaikan…* Jadi kita porsinya di bumi ttp jadi khalifah yang bisa rahmatan lil alamin, dan ga salah langkah ambil peran jadi Tuhan yg sibuk menghakimi kesalahan orang lain *misalnya*

Sekian dulu yaaaa kepanjangan… Sebenernya masih banyak isinya tapi lanjut nanti. Kengacoan dan kesalahan datengnya tentu dari saya, mohon maaf sebanyak2nya, semoga lumayan bermanfaat walaupun sedikit 🙂

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *