Bertanya : part 2

Adab bertanya.

(Sekali lg saya sampein ini sekedar rangkuman dari kajian Nouman Ali Khan ya, bonus curhat kadang.bukan cuma dari sayaaah ☺️ yang mau lebih detail dan bagus silakan nonton langsung di webnya)

Sebelumnya kan udh dibahas ya soal bertanya, bahwa kita boleh bertanya – soal agama. Bahkan malaikat aja bertanya ketika mereka tidak mengerti. Nah ketika kita bertanya soal agama, acuan kita pasti ke Quran dulu. Lalu hadits.

Quran sendiri merupakan mukjizat terakhir. Final Miracle, final revelation.
Karena disebut mukjizat..sadar ga sadar kadang kita terlalu sibuk dengan cocoklogi science dengan quran, maka ketika ada ketidak cocokan muncullah keraguan. Padahal yang namanya teori bisa berubah. Kadang si cocoklogy science ini dipake senjata buat sekedar mendebat agama lain…

Emang sih kadang seru juga si cocoklogy ini, tapi kemarin2 ini saya baru tau sudut pandang lain tentang mukjizat terakhir ini. Bagaimana mata saya terbuka, akan point paling penting soal membuktikan ini memang sesuatu yang bukan dibuat manusia.

Secara singkat *fullnya silahkan tonton di bayyinah.org, pada albaqarah dijelaskan kalau kitab itu tidak ada keraguan di dalamnya. Itu, dalam bahasa arab, dzalika. Beda dengan haadza yang berarti ini. (Alhamdulillah yaaa sama ortu dimasukin ke SMP yang ngajari bahasa arab, masi inget walau dikit) Padahal kan kitab yang lg dibaca kan mestinya “ini” ya. Yang lagi dipegang. Tapi dulu ketika disampaikan pada rasulullah salallahu alaihi wasalam, semua ayat itu berupa bacaan, recitation, bacaan, bukan tulisan.
Singkat cerita, sebenernya al-Quran adalah kitab yang awalnya telah tertulis dan tersusun, dalam Lauh Mahfuz.
Nah isi Quran yg di Lauh Mahfuz itu lah yang disampaikan melalui Jibril pada rasulullah salallahu alaihi wasalam dalam bentuk bacaan.

Secara linguistik, bahkan ketika Nouman Ali berbicara dengan pakar linguistik yang non-muslim pun mereka merasa al-Quran adalah tulisan. Sesuatu yang dibacakan dari yang sudah tertulis.
Beda deh kalo ngomong *misalnya* sama saya langsung, sama baca tulisan saya. Tulisan pasti lebih terstruktur, grammar lebih rapi, dst.

Dan nabi Muhammad salallahu alaihi wasalam adalah nabi yang ummi, tidak bisa membaca menulis.

وَمَا كُنْتَ تَتْلُو مِنْ قَبْلِهِ مِنْ كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ إِذًا لَارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ
“Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Quran) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu).” (QS. Al Ankabut: 48)
Maka ketika Al-Quran dibacakan, orang2 pun terkejut.

Aliif Laam Miim.

Seperti a-b-c, huruf per huruf, yang mencengangkan yang mendengar. Kenapa mencengangkan? Karena berarti, untuk tahu dan melafalkannya maka berarti nabi muhammad salallahu alaihi wasalam punya guru. Bukannya ngarang sendiri.
Semacam anak kecil ya kalau ngomong atau niru suara mah biasa kan ya, anak mah kelakuan, gerakan dll emang suka niru. Dibesarin pake bahasa indonesia ya ntar dia ngomong indo, kalo dibesarin di hutan kaya tarzan..ya mereun ngikutin suara binatang..
tapi ketika si anak bilang A-B-C berarti ada guru yang ngajarin dia alfabet. Makanya orang2 kaget pas ada bacaan alif lam mim.. Berarti ada yang ngajarin rasulullah salallahu alaihi wasalam dong…
Dan siapa ya gurunya itu? Zaman itu orang arab tuh yang paling dibanggakan ya bahasnya, puisi2nya, dan si puisi ini semacem musik gitu kali ya ada genre-nya.
Pas dibacain Quran ya kaget lagi, karena belum pernah ada nihhh bacaan yang modelnya kaya gini.
Belum lagi isinya. Banyak yang mengatakan rasulullah salallahu alaihi wasalam hanya mengambil cerita dari kitab sebelumnya, padahal baca aja ga bisa, dan ceritanya kalau diteliti lagi.. Sungguh memiliki banyak perbedaan yang jelas *nonton langsung aja ya kalo penasaran bedanya apa.
Buat saya itu udh lebih dr bukti soal Quran adalah perkataan Allah.

Murnikan tujuan kita mempelajari quran.
Ingat adab.
Kita mempelajari untuk mendapatkan petunjuk, bukan sekedar buat sekedar berdebat dengan orang lain. Semacam cari dalil tujuannya cuma buat debat tuh ya… Buat apaaaa? Yang namanya debat tuh lebih cenderung saling mempertahankan keyakinannya aja, bukan membuka hati untuk menerima pendapat orang lain.. Heuuu makanya jauhilah debat, apalagi di komen fesbuk okeh 😝
Bayangkan kamu pergi kuliah, dateng cuma pengen ngejatuhin semuaaaaa ajaran yang disampaikan si profesornya. Ngerasa kamu lebih bener.
Padahal materi yang disampaikan sama buat sekelas, tapi apakah ilmu yg kamu dapet akan sama banyaknya sama orang lain yang niat dateng buat cari ilmu dan menyerapnya?
Ketika kita memohon petunjuk Allah, melalui Quran, maka posisikan lah kita sebagaimana kodrat kita sebagai manusia. Yang ilmunya gak sebanding. Yang teori science-nya cuma sesuai kapasitas otak kita aja yang segede gini doang…
Jika cuma dijadikan bahan cocok-cocokan…
Ketika kita ngerasa ini gak sreg sama science, nanti ragu..
Padahal ketika kita sudah merasa yakin ini adalah murni dari Allah, ragu itu udh ga punya tempat lagi di hati kita.
Bukan berarti kita gak boleh bertanya kok ini gini kok ini gitu, tapi mari kita kembali ke adab bertanya.
Lihat perbandingan cara malaikat bertanya dan iblis bertanya?
Apa kita akan mengikuti sikap malaikat yang taat, bersujud setelah diberi penjelasan? Atau sikap iblis?
Karena manusia ada juga lohh yang gitu, ngikutin iblis
Mau dikasi penjelasan yang sangat memuaskan dari segi intelektual, secara rasional, bahkaaaaan… Hatinya pun merasa itu benar,
Mereka tetap menolak taat.

Mereka tetap sombong, takabbur (merasa besar-hebat), lebih benar, *dalam hal cocoklogy misalnya merasa kemampuannya berpikir scientific lebih benar daripada isi quran, atau logika manusianya lebih benar drpd aturan yang diperintahkan *duh brb ngaca dulu 😭😭😭😭😭😭😭*…

Di era “just do it” ini apalagi, ketika “it feels right” then “it’s right”😭
Ketika standar moral banyak bergeser dengan cepat, ketika godaan begitu banyak 😭 ketika kita mulai ragu.. Apakah aturan kaya gini masih mesti diterapkan zaman sekarang 😞 padahal Quran berlaku sampai akhir zaman.
Begitulah kita mesti menempatkan diri kita ketika ada sesuatu yang membuat kita bertanya-tanya soal suatu hal dalam quran. Posisikan pertanyaan kita sebagaimana malaikat memposisikan pertanyaannya tentang kemampuan manusia menjadi khalifah di bumi.
Jadikan pertanyaan kita sebagai penyadar diri kita bahwa..kita mah apa atuhhh… Mungkin emang otak dan ilmunya belom sampe, atau emang diluar kemampuan otak kita..tapi Allah yang Maha Mengetahui segala ilmu.
Minta lah petunjuk jika memang ingin diberi pemahaman, ketika belum paham juga… Bersabarlah dan mungkin kita jg harus sadar kalau untuk hal-hal tertentu, mungkin, bisa jadi sebenernya kita lebih baik tidak tahu…
Trus move on! Keep on learning…
Karena ada aja orang yang stuck ngartiin Aliif Laam Miim dan ga maju maju belajar ke ayat selanjutnya ☺️
Jadikan Aliif Laam Miim sebagai pengingat,
Sebanyak apapun yang kita pikir kita tau…
Sesungguhnya kita mah ga tau apa-apa…

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *