Allah is Merciful

This probably gonna less awesome than the last post.. Yaiyalah itumah rangkuman video pencerahan yang bikin saya melek dan dapet jawaban dari salah satu pertanyaan terbesar seumur hidup.. Ini mah mix curhat sama rangkuman ceramah 😝
But i’ll post it anyway..

Terkadang kalo lagi inget-inget pelajaran agama di sekolah, atau mungkin TPA juga pas jaman dulu, saya suka kecewa. Kecewa kenapa dulu begitu (terlalu) banyak ketakutan yang disebarkan. Kenapa kematian itu lebih dekat dengan cerita ancaman neraka daripada indahnya surga.

Di ingatan saya yang kurang tajam, saya terbayang salah satu guru sd – mungkin kelas 2 – yang menanyakan soal kematian. Siapa yang pernah terbersit soal kematian. Saya tunjuk tangan. Padahal, alhamdulillah, pada masa itu semua sanak saudara saya masih hidup semua. Saya ingat ada masa saya sungguh rajin shalat, baca quran, atau terbangun tengah malam untuk shalat isya yang terlewat, hanya karena saya takut mati dan masuk neraka. Ya, waktu sd.

Kadang ketakutan demi ketakutan itu membuat jengah, sampai terkadang ada titik dimana saya kebal dan mati rasa.
Ada masa-masa dimana saya benar-benar jauh. Melupakan kewajiban, bahkan lupa akan ketakutan dan ancaman.

Iman memang naik turun, kadang penuh, kadang tipis…. Kadang…wadahnya nyaris kosong.

Suatu saat, alhamdulillah orang tua saya mengajak umroh, di depan ka’bah entah mengapa air mata keluar. Sebenernya sebelum umroh juga udah rada insaf sih dikit-dikit.. Bahkan terbersit berkerudung, tapi perlahan. Dari mulai pakai lengan panjang, sampai rok panjang, sampai pulang umroh saya putuskan untuk lanjutin aja pakai kerudung, toh ga rugi apa-apa, saya pikir.

Pakai kerudung, bukan berarti saya tiba-tiba sempurna. patokan saya jaman itu tuh selebgram yang pake kerudung tapi tetep kece, tetep warna-warni. Celana jeans. Tetep saya. Bukan berarti shalat saya jadi khusyu dan ga buru-buru. Gak, kerudung gak bisa jadi patokan kadar keimanan saya. Umroh, saya akui sangat membantu proses isi ulang iman, tapi lagi-lagi saya masih merasakan kekosongan. Ada yang kurang dari segala atribut dan ritual ini.

Kemudian saya punya anak.
Bayangkan, tanggung jawab yang besar, yang akan saya emban sebagai orang tua sebagai pendidik utama. Dia mau jadi apa nanti memang juga kehendak Allah, tapi tanggung jawab saya tetap tanggung jawab saya.

Apa yang mau saya ajarkan pada anak saya? Mau bikin anak saya jadi solehah sementara saya apaaaa? Solehah aja nggak. Ketika saya mengajarkannya sesuatu, rasanya canggung. Canggung sekali. Baca ilmu parenting sana sini, kalau mau dipraktekin kok lucu. Saya, suami saya, duh yaampun Gustiii, begajulan. Slengean. Kelakuan aja begini. Kalo ngomong anak pinteeer sih gampang. Tp duluuu jaman jahiliyah kita ampe ketawa2 *astagfirullah* kalo ngomong “adeuhh anak solehah”
Kayaknya getek.

Then i realized, maybe it’s because we’re a bit too far from the deen. Mungkin ada yang salah, dari semua yang kita pelajari selama ini. Mungkin, ada kepingan puzzle yang hilang…

Tapi walau suka ga khusyu, saya terus paksain diri buat seenggaknya tetep shalat, kemudian walau masih suka lupa rakaat, seenggaknya usahain awal waktu. Pokonya daripada ngga aja dulu. Dengan harapan? Ketika saya berusaha satu langkah lebih maju, Allah akan berlari ke arah saya.

Agama adalah jalan. Hidup adalah perjalanan, yang penuh cabang….pilihan rute…
Saya rasa kita ada disini untuk saling membantu untuk membuat perjalanan ini terasa lebih mudah dalam mencapai tujuan, saling membantu dengan mengundang orang lain ke jalan yang benar, yang tepat untuk menuju tujuan akhir yang menakjubkan.

Mengundang.

Undangan.

Allah, dalam as-syuura ayat 15 menyampaikan kepada nabi Muhammad salallahu alaihi wasalam untuk “mengundang” ke agama-Nya.

Tidakkah kita tau bagaimana adab mengundang? Tata kramanya? Cara mengundang supaya orang datang? Atau mau ikut?

Saya rasa itu yang hilang sekarang.

Betapa banyak orang yang kabur ketika “diundang” ke agama ini dengan cara yang…. Hmmmh… Membuat hati panas, sedih, berat, atau putus asa.

Bahkan pada sesama muslim, pada anak kecil. Saya tertawa miris pas denger ceramah Nouman Ali yang akan saya rangkum ini*tapi panjang-panjangin sama curhatan saya di sini. soal ibu yang marah-marah sambil bilang ke anaknya “nanti Allah murka, neraka jahannam dll”… Duh bu, itu anak yang ibu takut kalo tiba2 di jalan keserempet, atau tiba2 sakit panas, dll.. Ko bisaaa ditakut2in kaya gitu… *masih kata Nouman Ali ya ini.. Dari usia dini. Bagaimana nanti dia mau khusnudzon-berprasangka baik sama Allah?

Betul, sejak usia dini, sejak TPA, TQA…

Baru sekarang sekarang saya denger ceramah yang membuat tersenyum, jatuh cinta, kagum, dst akan betapaaaa luarrr biasa penuhhh kasih sayang Allah pada manusia, betapa Al-Quran adalah mukjizat-Nya yang luar biasa *bukan sekedar buat dibanding2in dengan science, betapa.. Betapaaaa amaziiing beyond words segala sifat-sifatNya. Juga petunjuk-Nya dalam Quran.

Iya tau sih soal nikmat-Nya yang mana yang kau dustakan, tapi.. Kasih sayang bahkan bagi yang telah melakukan dosa kemudian bertaubat..bagaimana soal yg kemarin itu dibahas rancangan luar biasa soal manusia yang bisa memilih, berpikir-mewariskan ilmu dst, kenapa ada penderitaan…yang kalau diramu jadi satu menjadikan jawaban yang super mencerahkan… Kenapaaaa bukan ini yang dulu diajarkan? Kenapa bukan ini yang lebih banyak kita sampaikan?

Kenapa kita nggak bikin rasa cinta, rasa syukur, rasa pengakuan akan keagungan-Nya, ke Maha Sempurnaan-Nya, rahmat-Nya yang luas duluan yang dirasakan sama orang-orang? Sama anak-anak? Sama saudara kita sesama muslim?

Bukan berarti kita menutup-nutupi bahwa ada kalanya dalam Al-Qur’an Allah marah. Atau menutup-nutupi soal adanya neraka, tentu itu juga wajib disampaikan.Tapi gimana caranya bikin orang lain (yang sedang mulai berproses) ngga putus asa dan menyadari kalau rahmat dan ampunan-Nya lebih besar dari murka-Nya.

Kemudian baru gimana caranya, menumbuhkan rasa takut JIKA bermaksiat pada-Nya dan melanggar perintahnya. Merasa takut JIKA HILANG imannya, JIKA berpaling dari-Nya.

Kaya logika cinta aja sih, bukankah kita takut kehilangan orang yang kita cintai, apalagi untuk selamanya? Bukankah kita merasa jadi orang yang paling rugi, jika kita ngga bisa menghabiskan waktu bersama orang yang kita cintai? Bukankah kita takut, kalau pulang ke rumah orang tua marah krn kita mengecewakannya? Takutnya kenapa? Selain pada amarahnya juga karena merasa kasih sayangnya berkurang pas mereka marah…
Begitu juga rasa takut akan kehilangan kesempatan kita bertemu dengan-Nya di akhirat nanti, bertemu dan merasakan lebih dekat akan segala Rahmat dan Kasih sayang dan Keagungan dan Kesempurnaan-Nya…

Beda orang dan beda cara kita menyikapi, tapi disini yang saya sorot adalah dalam mengajak saudara sesama muslim, yang sedang dalam perjalanannya dalam/menuju jalan Allah. Yang baru memulai, bahkan pada anak kecil. Gimana kalo malah pada kabuuuur?

Undangan yang baik dan luar biasa aja kadang ada yang menolak dateng kan ya.. Apalagi yang menyakitkan hati.. Bahkan Allah memerintahkan Musa untuk berbicara pada FIRAUN dengan LEMAH LEMBUT.

Fir’aun loh, yang mengaku dirinya tuhan.

Duh kadang saya mah suka sedih kalo baca komen fesbuk, instagram orang2… Meuni ngetik teh nyinyir-nyinyir teuing… Mending lah kalau via inbox langsung, ini mah di komen terus bales-balesan ampe panjang 😭 kadang kesian tapi gimana.. Bisa apa… Ngingetin tapi banyak banget itu yang komen meuni lieur…

Ada anak abg pake kerudung tapi warna warni jadi selebgram pake celananya ketat, dihina-hina dikomen, dibikin pula akun hatersnya, astagfirullah…
Ada yang nyumbang ibu2 warteg dirazia trus urusannya jadi panjaaaang ampe investigasi si ibu punya warteg berapa suaminya kerja apa dll bawa bawa agama sampe yang nyumbang dikatain bodo tapi gimanaa kalo ternyata yang nyumbang emang polos tulus ikhlas dan ga punya waktu buat cari tau tapi pengen weee da kasian.

Kaya pengen bilang, get a life maaan!

Ada yang merasa agama ini ditindas dibuat jelek namanya, tapi sama siapaaaa? Tanya lagi sama siapa?
Selalu sama penganut agama lain?
Atuhlah please.

Islam ini selalu sebuah jalan. Shiraatal mustaqiim.

Kita mah peernya cuma mengundang, mengajak, sesekali mengingatkan, namun ingat..

ADAB.

Di sebuah jalan, tidak semuanya ngebut. Ada yang progressnya cepat, alhamdulillah. Ada yang lambat. Ada yang perlaahaaaaaaan sekali.

Kadang saya sendiri merasa sangat lambat. Dalam perjalanan saya mungkin pernah salah belok, lalu kembali lagi, alhamdulillah karena izin-Nya. Juga melalui berbagai orang yang terus menyampaikan dakwah dan pemahamannya, sungguh saya berterima kasih…

Tapi ingat kita manusia. Allah marah, karena itu hak Allah. Allah berhak marah karena dipersekutukan, tapi bahkan nabi Muhammad salallahu alaihi wasallam bisa hidup berdampingan dengan penganut agama lain – dan bagi masing2 silahkan jalankan agama masing-masing…

Ingat kisah Nabi Yunus yang marah dan meninggalkan kaumnya? 🙂
Iya, bahkan seorang Nabi pun diberi peringatan oleh Allah karena ia marah dan meninggalkan kaumnya yang enggan ibadah..

Kewajiban kita hanya menyampaikan. Saya pribadi masih lebih senang menyampaikan rasa takjub saya, rasa cinta saya, everything He does that make my mind blown.
Mungkin ada yang lain yang lebih kompeten dalam menyampaikan peringatan dan larangan dan berdakwah tentang siksa-Nya. Asal jangan lupa.. Marah masih hak Allah. Hidayah juga. Apakah kamu merasa sia2 menyampaikan sesuatu yang menyita waktumu sekian puluh menit- atau sekian jam sementara yang diberitahu seolah ngeloyor gitu aja? Please at least can we stop judging each other and saying dasar kafir dasar bodoh dasar ini itu dilaknat munafik dll…

Sungguh hati itu ngga ada yang tau selain orangnya sendiri dan Allah. Dan bukan kita yang berhak menjudge.
Karena yang kita tau cuma hati masing2 aja, jadi perbaikilah hati kita dulu, pastikan milik kita semakin baik. Insyaa Allah perlahan semua akan ikut baik..
Jangan lupa minta bantuan-Nya, Yang Maha membolak-balikkan hati.
Karena pada hakikatnya, kebaikan itu menular dan menginspirasi kan?

Karena dari kuasa Allah yang mempertemukan saya *walau via layar* dengan orang-orang baik ini, yang mau membagi penjelasan akan tafsir Quran tentang betapa Maha Pengasih Allah, tentang betapa luar biasanya Dia lah saya terinspirasi pengen jadi baik juga 🙂

*p.s. Dan tularkanlah dulu ke yang terdekat.. Buat perubahan yang kamu bisa, mungkin yang terdekat adalah anak, suami, tebarkanlah ilmu dan tularkanlah kebaikan yang kamu dapat di rumah dulu…
Yang masih punya anak kecil, ini kesempataaaan banget buat kita. Kesempatan belajar supaya kita bisa menyampaikan.
Ajarkan… Eh salah, contohkan adab. Adab bertanya, adab menegur, adab mengingatkan.
Habiskan waktu kita belajar lebih banyak, karena peer kita juga mengajarkan.
Siapkan diri kita, anak kecil banyak tanya.
Biar mereka bisa bertanya mengapa mereka harus begini begitu
Biar mereka bisa paham “kenapa” dan bukan sekedar tata cara
Biar mereka turut jatuh cinta dan memahami 🙂

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *